ELEMEN & HIMPUNAN DAN BILANGAN
ELEMEN DAN HIMPUNAN
A. PENGERTIAN
v Elemen atau anggota dari suatu himpunan dalam matematika adalah objek-objek matematika tertentu yang membentuk himpunan itu.
v Himpunan adalah kumpulan benda atau objek yang dapat didefinisikan dengan jelas. Benda atau objek dalam himpunan disebut elemen atau anggota himpunan. Dari defi nisi tersebut, dapat diketahui objek yang termasuk anggota himpunan atau bukan.
Contoh himpunan:
• Himpunan warna lampu lalu lintas, anggota himpunannya
adalah merah, kuning, dan hijau.
adalah merah, kuning, dan hijau.
• Himpunan bilangan prima kurang dari 10, anggota himpunannya
adalah 2, 3, 5, dan 7.
Contoh bukan himpunan:adalah 2, 3, 5, dan 7.
• Kumpulan baju-baju bagus.
• Kumpulan makanan enak.
Penulisan A = {1, 2, 3, 4} berarti bahwa elemen-elemen
himpunan A adalah bilangan 1, 2, 3 dan 4. Himpunan
elemen-elemen A, misalnya {1, 2}, merupakan subset A.
himpunan A adalah bilangan 1, 2, 3 dan 4. Himpunan
elemen-elemen A, misalnya {1, 2}, merupakan subset A.
Himpunan itu sendiri dapat merupakan elemen. Misalnya ada
himpunan B = {1, 2, {3, 4}}. Elemen-elemen B bukan 1, 2, 3, dan 4.
Melainkan, hanya ada tig elemen B, yaitu bilangan 1 dan 2, dan
himpunan {3, 4}.
himpunan B = {1, 2, {3, 4}}. Elemen-elemen B bukan 1, 2, 3, dan 4.
Melainkan, hanya ada tig elemen B, yaitu bilangan 1 dan 2, dan
himpunan {3, 4}.
Elemen-elemen suatu himpunan dapat berupa apa saja.
Misalnya, C = { merah, hijau, biru }, adalah suatu himpunan yang
elemen-elemennya adalah warna-warna merah, hijau dan biru.
Misalnya, C = { merah, hijau, biru }, adalah suatu himpunan yang
elemen-elemennya adalah warna-warna merah, hijau dan biru.
B. JENIS – JENIS HIMPUNAN
1. Himpunan Bagian (Subset).
Himpunan A dikatakan himpunan bagian (subset) dari himpunan B
ditulis A ⊂ B ”, jika setiap anggota A merupakan anggota dari B.
ditulis A ⊂ B ”, jika setiap anggota A merupakan anggota dari B.
o Syarat :
1. A ⊂ B, dibaca : A himpunan bagian dari B
2. A ⊂ B, dibaca : A bukan himpunan bagian dari B
3. B ⊂ A dibaca : B bukan himpunan bagian dari A
4. B ⊂ A dibaca : B bukan himpunan bagian dari A
Contoh :
Misal A = { 1,2,3,4,5 } dan B = { 2,4} maka B ⊂ A
Sebab setiap elemen dalam B merupakan elemen dalam
A, tetapi tidak sebaliknya.
A, tetapi tidak sebaliknya.
Penjelasan : Dari definisi diatas himpunan bagian harus mempunyai
unsur himpunan A juga merupakan unsur himpunan B.
artinya kedua himpunan itu harus saling berkaitan.
unsur himpunan A juga merupakan unsur himpunan B.
artinya kedua himpunan itu harus saling berkaitan.
2. Himpunan Kosong (Nullset)
Himpunan kosong adalah himpunan yang tidak mempunyai unsur
anggota yang sama sama sekali.
anggota yang sama sama sekali.
o Syarat : Himpunan kosong = A atau { }
himpunan kosong tidak boleh di nyatakan
dengan { 0 }.
dengan { 0 }.
Sebab : { 0 } ≠ { }
3. Himpunan Semesta
Himpunan semesta biasanya dilambangkan dengan “U” atau “S”
(Universum) yang berarti himpunan yang memuat semua anggota
yang dibicarakan atau kata lainnya himpunan dari objek yang sedang
dibicarakan.
(Universum) yang berarti himpunan yang memuat semua anggota
yang dibicarakan atau kata lainnya himpunan dari objek yang sedang
dibicarakan.
4. Himpunan Sama (Equal)
Bila setiap anggota himpunan A juga merupakan anggota himpunan
B, begitu pula sebaliknya. Dinotasikan dengan A=B
B, begitu pula sebaliknya. Dinotasikan dengan A=B
o Syarat : Dua buah himpunan anggotanya harus sama.
Contoh :
A ={ c,d,e} B={ c,d,e } Maka A = B
Penjelasan : Himpunan equal atau himpunan sama,memiliki dua buah
himpunan yang anggotanya sama misalkan anggota
himpunan A {c,d,e} maka himpunan B pun akan
memiliki anggota yaitu { c,d,e }.
himpunan yang anggotanya sama misalkan anggota
himpunan A {c,d,e} maka himpunan B pun akan
memiliki anggota yaitu { c,d,e }.
5. Himpunan Lepas
Himpunan lepas adalah suatu himpunan yang anggota-anggotanya
tidak ada yang sama.
tidak ada yang sama.
6. Himpunan Komplemen (Complement set)
Himpunan komplemen dapat di nyatakan dengan notasi AC .
Himpunan komplemen jika di misalkan S = {1,2,3,4,5,6,7} dan
A = {3,4,5} maka A ⊂ U. Himpunan {1,2,6,7} juga merupakan
komplemen, jadi AC = {1,2,6,7}.
Himpunan komplemen jika di misalkan S = {1,2,3,4,5,6,7} dan
A = {3,4,5} maka A ⊂ U. Himpunan {1,2,6,7} juga merupakan
komplemen, jadi AC = {1,2,6,7}.
o AC = {x│x Є U, x Є A}
7. Himpunan Ekuivalen (Equal Set)
Himpunan ekuivalen adalah himpunan yang anggotanya sama
banyak dengan himpunan lain.
banyak dengan himpunan lain.
o Syarat : Bilangan cardinal dinyatakan dengan
notasi n (A) A ≈ B
notasi n (A) A ≈ B
Contoh : A = { w,x,y,z }→n (A) = 4
B = { r,s,t,u } →n (B) = 4
Maka n (A) =n (B) →A≈B
Penjelasan: himpunan ekivalen mempunyai bilangan cardinal dari
himpunan tersebut, bila himpunan A beranggotakan
4 karakter maka himpunan B pun beranggotakan 4.
himpunan tersebut, bila himpunan A beranggotakan
4 karakter maka himpunan B pun beranggotakan 4.
C. CARA PENULISAN HIMPUNAN
Ada empat cara untuk menyatakan suatu himpunan, yaitu :
1. Tabulasi, Dengan menyebutkan semua anggotanya (roster) yang
diletakkan di dalam sepasang tanda kurung kurawal, dan di antara
setiap anggotanya dipisahkan dengan tanda koma..
diletakkan di dalam sepasang tanda kurung kurawal, dan di antara
setiap anggotanya dipisahkan dengan tanda koma..
Contoh : A = {a, i, u, e, o}
2. Deskripsi, menyebutkan syarat anggota-anggotanya
Contoh : ambil bilangan asli kurang dari 5
A = bilangan asli kurang dari 5
3. Notasi Pembentukan Himpunan, dengan menuliskan ciri-ciri umum
atau sifat - sifat umum (role) dari anggotanya.
atau sifat - sifat umum (role) dari anggotanya.
4. Diagram Venn, ditemukan oleh seorang ahli matematika Inggris
bernama John Venn tahun 1881. Himpunan semesta digambarkan
dengan segiempat dan himpunan lainnya dengan lingkaran di dalam
segiempat tersebut.
bernama John Venn tahun 1881. Himpunan semesta digambarkan
dengan segiempat dan himpunan lainnya dengan lingkaran di dalam
segiempat tersebut.
D. OPERASI PADA HIMPUNAN
1. Gabungan
Gabungan (union) dari himpunan A dan B adalah himpunan
yang setiap merupakan anggota himpunan A atau himpunan B.
A gabungan B ditulis A ∪B = {x | x ∈A atau x ∈B}
Contohnya : A = {1, 2, 3, 4, 5}
B = {2, 3, 5, 7, 11}
A ∪ B = {1, 2, 3, 4, 5, 7, 11}
2. Irisan
Irisan (intersection) dari himpunan A dan B adalah himpunan
yang setiap anggotanya merupakan anggota dari himpunan A
dan anggota himpunan B.
Contoh : A = {a, b, c, d, e} dan B = {b, c, f, g, h}
irisan himpunan A dan B adalah b dan c atau ditulis dengan :
A ∩ B = {b, c}
irisan himpunan A dan B adalah b dan c atau ditulis dengan :
A ∩ B = {b, c}
A ∩ B dibaca himpunan A irisan himpunan B. Dengan diagram
Venn A ∩ B bisa dinyatakan seperti pada Gambar berikut ini :
3. Komplemen Himpunan
Komplemen himpunan A terhadap himpunan semesta S adalah
anggota A.
Komplemen A ditulis A1 atau Ac = {x | x ∈ S dan x Ï A}
Contohnya : A = {1, 2, … , 5}
himpunan yang anggotanya merupakan anggota S yang bukan
S = {biangan Asli kurang dari 10}
Ac = {6, 7, 8, 9}
4. Selisih
Selisih himpunan A dan B adalah himpunan yang anggotanya
merupakan anggota himpunan A dan bukan anggota himpunan B.
Selisih himpunan A dan B adalah komplemen himpunan B
terhadap himpunan A.
Selisih B ditulis A-B = {x | x ∈ A atau x Ï B}
terhadap himpunan A.
Selisih B ditulis A-B = {x | x ∈ A atau x Ï B}
Contohnya : A = {1, 2, 3, 4, 5}
B = {2, 3, 5, 7, 11}
A-B = {1, 4}
E. HIMPUNAN PENYELASAIAN SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL ( SPLDV )
1. Metode Grafik
Wajib menggambar masing-masing persamaan linear dua variabel
dalam koordinat kartesius. Himpunan penyelesaiannya yaitu titik
potong dari kedua garis.
2. Metode Substitusi
Langkah-langkah dengan menggunakan metode substitusi untuk
mencari himpunan penyelesaian dari SPLDV, yaitu :
mencari himpunan penyelesaian dari SPLDV, yaitu :
1. Ubahlah salah satu persamaan ke dalam bentuk x = … atau y = …
2. Masukkan (substitusi) nilai x atau y yang di dapat ke dalam
persamaan yang kedua.
persamaan yang kedua.
3. Nilai x atau y yang di dapat lalu kemudian disubstitusikan ke
dalam salah satu persamaan untuk memperoleh nilai variabel
lainnya yang belum diketahui (x atau y).
dalam salah satu persamaan untuk memperoleh nilai variabel
lainnya yang belum diketahui (x atau y).
3. Metode Eliminasi
Menghilangkan (mengeliminasi) salah satu variabel dari sistem
persamaan yang akan dicari himpunan penyelesaiannya.
persamaan yang akan dicari himpunan penyelesaiannya.
4. Metode Campuran ( Eliminasi dan Substitusi )
Cara menentukan salah satu variabel x atau y dengan
menggunakan metode eliminasi. Hasil yang diperoleh dari x atau y
kemudian disubstitusikan ke salah satu persamaan linear dua
variabel tersebut.
menggunakan metode eliminasi. Hasil yang diperoleh dari x atau y
kemudian disubstitusikan ke salah satu persamaan linear dua
variabel tersebut.
BILANGAN MATEMATIKA
A. PENGERTIAN
Bilangan adalah suatu konsep matematika yang digunakan untuk pencacahan dan pengukuran. Simbol ataupun lambang yang digunakan untuk mewakili suatu bilangan disebut sebagai angka atau lambang bilangan
1. Bilangan Kompleks
Bilangan kompleks adalah bilangan yang anggota - anggotanya
(a + bi) dimana a, b ϵ R, i2= -1. Dengan a bagian bilangan rill dan b
bagian dari bilangan imajiner.
(a + bi) dimana a, b ϵ R, i2= -1. Dengan a bagian bilangan rill dan b
bagian dari bilangan imajiner.
Contoh : K = { 2-3i, 8+2, …. }
2. Bilangan Imajiner
Bilangan imajiner adalah bilangan i (satuan imajiner) dimana
i adalah lambang bilangan baru yang bersifat i2= -1.
i adalah lambang bilangan baru yang bersifat i2= -1.
Contoh : M = { i, 4i, 5i, ….. }
3. Bilangan Rill
Bilangan riil adalah bilangan yang bisa dituliskan dalam bentuk
desimal.
desimal.
Contoh : L = {5/8, log 10, …. }
4. Bilangan Irasional
Bilangan irrasional adalah bilangan – bilangan yang tidak dapat
dinyatakan dalam bentuk pecahan atau bilangan selain bilangan
rasional.
Bilangan irrasional adalah bilangan – bilangan yang tidak dapat
dinyatakan dalam bentuk pecahan atau bilangan selain bilangan
rasional.
Contoh : I = { √2, √3, √5, √6, √7, ….. }
Keterangan tambahan: √4 = 2, berarti √4 bukan termasuk bilangan
irrasional.
irrasional.
5. Bilangan Rasional
Bilangan rasional adalah bilangan yang dinyatakan dalam bentuk
a/b, dengan a dan b adalah anggota bilangan bulat dan b ≠ 0.
Contoh : R = {1/4, 3/4, …. }
Bilangan rasional adalah bilangan yang dinyatakan dalam bentuk
a/b, dengan a dan b adalah anggota bilangan bulat dan b ≠ 0.
Contoh : R = {1/4, 3/4, …. }
6. Bilangan Pecahan
Bilangan pecahan adalah bilangan yang dapat dinyatakan dalam
bentuk a/b, dengan a dan b adalah bilangan bulat dan b ≠ 0.
Bilangan a disebut sebagai pembilang dan bilangan b disebut sebagai
penyebut.
Contoh : H = {1/3, 2/3, 1/8, 5/8, .….. }
Keterangan tambahan: 4/2 = 2, berarti 4/2 bukan termasuk pecahan.
Bilangan pecahan adalah bilangan yang dapat dinyatakan dalam
bentuk a/b, dengan a dan b adalah bilangan bulat dan b ≠ 0.
Bilangan a disebut sebagai pembilang dan bilangan b disebut sebagai
penyebut.
Contoh : H = {1/3, 2/3, 1/8, 5/8, .….. }
Keterangan tambahan: 4/2 = 2, berarti 4/2 bukan termasuk pecahan.
7. Bilangan Bulat
Bilangan Bulat adalah semua bilangan bukan pecahan. Bilangan
bulat terdiri dari bilangan nol, positif dan negatif.
Contoh : Bilangan positif 1,2,3,4,5,6,7,… ,
Bilangan negatif …,-7,-6,-5,-4,-3,-2,-1
Bilangan nol “0”
Bilangan Bulat adalah semua bilangan bukan pecahan. Bilangan
bulat terdiri dari bilangan nol, positif dan negatif.
Contoh : Bilangan positif 1,2,3,4,5,6,7,… ,
Bilangan negatif …,-7,-6,-5,-4,-3,-2,-1
Bilangan nol “0”
8. Bilangan Negatif
Bilangan negatif adalah bilangan bernilai negatif.
Contoh : N = { -3, -5, 1/4, …. }
Keterangan tambahan: -2/-3 = 2/3 berarti -2/-3 bukan termasuk
bilangan negatif.
Bilangan negatif adalah bilangan bernilai negatif.
Contoh : N = { -3, -5, 1/4, …. }
Keterangan tambahan: -2/-3 = 2/3 berarti -2/-3 bukan termasuk
bilangan negatif.
9. Bilangan Cacah
Bilangan cacah adalah himpunan bilangan positif dan nol.
Contoh : C = { 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, ….. }
Bilangan cacah adalah himpunan bilangan positif dan nol.
Contoh : C = { 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, ….. }
10. Bilangan Nol
Bilangan nol adalah bilangan nol itu sendiri (0).
Contoh : N = { 0 }
Bilangan nol adalah bilangan nol itu sendiri (0).
Contoh : N = { 0 }
11. Bilangan Asli
Bilangan asli adalah bilangan positif yang dimulai dari bilangan satu
ke atas.
Contoh : A = { 1, 2, 3, 4, 5, ….. }
Bilangan asli adalah bilangan positif yang dimulai dari bilangan satu
ke atas.
Contoh : A = { 1, 2, 3, 4, 5, ….. }
12. Bilangan Komposit
Bilangan komposit adalah bilangan asli yang lebih besar dari 1 dan
bukan termasuk bilangan prima.
Contoh : K = { 4, 6, 8, 9, 10, 12, ….. }
Bilangan komposit adalah bilangan asli yang lebih besar dari 1 dan
bukan termasuk bilangan prima.
Contoh : K = { 4, 6, 8, 9, 10, 12, ….. }
13. Bilangan Prima
Bilangan prima adalah bilangan yanga tidak dapat dibagi oleh
bilangan apapun, kecuali bilangan itu sendiri dan 1 (satu).
Contoh : P = { 2, 3, 5, 7, 11, 13, 17, ….. }
Bilangan prima adalah bilangan yanga tidak dapat dibagi oleh
bilangan apapun, kecuali bilangan itu sendiri dan 1 (satu).
Contoh : P = { 2, 3, 5, 7, 11, 13, 17, ….. }
14. Bilangan Genap
Bilangan genap adalah bilangan bilangan yang selalu habis dibagi 2.
Contoh : E = { 2, 4, 6, 8, 10, ….. }
Bilangan genap adalah bilangan bilangan yang selalu habis dibagi 2.
Contoh : E = { 2, 4, 6, 8, 10, ….. }
15. Bilangan Ganjil
Bilangan ganjil adalah bilangan yang apabila dibagi 2 hasilnya
selalu tersisa 1 atau bilangan yang dapat dinyatakan dengan (2n – 1 )
dengan n = bilangan bulat.
Contoh : G = {-3, -1, 1, 3, 5, 7, …. }
Bilangan ganjil adalah bilangan yang apabila dibagi 2 hasilnya
selalu tersisa 1 atau bilangan yang dapat dinyatakan dengan (2n – 1 )
dengan n = bilangan bulat.
Contoh : G = {-3, -1, 1, 3, 5, 7, …. }


Komentar
Posting Komentar